wELcOme to mY bLog

Selasa, 29 Desember 2009

Rabu, 26 Agustus 2009

Apakah Desain Grafis Itu?

Umpamakan anda ingin mengumumkan, menginformasikan atau menjual sesuatu, menghibur atau membujuk seseorang, menjelaskan suatu sistem yang rumit atau mempertunjukkan suatu proses yang panjang dan berbelit-belit. Dengan kata lain, anda mempunyai suatu pesan yang harus dikomunikasikan. Bagaimana anda “mengirimkan” itu? Mungkin anda bisa menceritakan atau bertutur kepada setiap orang satu persatu atau menyiarkan dengan radio atau pengeras suara. Namun yang anda lakukan itu adalah komunikasi lisan. Sementara jika anda menggunakan media visual atau rupa seperti poster, mengetik surat, menciptakan logo perusahaan, iklan majalah, atau cover album DVD dan sejenisnya, walaupun sekedar menggunakan printout komputer dan didalamnya secara pasti menggunakan format visual, maka yang anda lakukan sudah dapat dikatakan sebagai sebuah kerja desain grafis.

Dari segi keilmuan, hakekatnya desain grafis adalah salah satu bentuk dari ilmu seni rupa terapan. Dalam prosesnya diberikan kebebasan kepada sang desainer atau perancang untuk memilih, menciptakan dan mengatur elemen-elemen rupa dasar seperti garis, warna, bidang, raut, tekstur, value serta bekerja berdasarkan prinsip-prinsip dasar desain diantaranya adalah balance/keseimbangan, rhythm/irama, emphasis/penekanan dan unity/kesatuan. Desainer juga bekerja dengan didukung beberapa aspek lain seperti pemahaman dalam mengorganisasikan proses kreasi dan memiliki kemampuan dalam menyampaikan atau menangkap pesan. Pesan-pesan tersebut digarap oleh desainer dalam sebuah karya yang bertujuan untuk diproduksi atau dikomunikasikan melalui berbagai media.

Desain grafis adalah sebuah proses kreatif yang mengkombinasikan seni dan teknologi dalam mengkomunikasikan gagasan. Desainer bekerja dengan seperangkat ‘alat’ untuk menyampaikan pesan yang berasal dari sumber pesan atau client kepada audience. Beberapa perangkat yang digunakan antara lain gambar, ilustrasi, lukisan, photography, huruf, angka, grafik dan atau image yang telah di-generate oleh beberpa aplikasi komputer. Desainer membuat, memilih dan mengorganisasikan semuanya atau sebagian dari element dan perangkat tersebut ke dalam sebuah bidang yang dinamakan “white space” dan selanjutnya disampaikan kepada publik sebagai sebuah media komunikasi.

Desain grafis memiliki beberapa macam basis karya dengan melihat komposisi elemen-elemen yang terdapat dalam karya tersebut, diantaranya adalah:

Desain berbasis Image

Desainer membangun image yang merupakan representasi dari gagasan pribadinya atau client bisnisnya. Image sangat kuat untuk dipercaya dan merupakan alat komunikasi yang dapat mempengaruhi, mampu menyampaikan tidak hanya informasi tetapi juga suasana hati dan emosi. Orang akan bereaksi terhadap image secara instinktif berdasar pada kepribadian mereka, asosiastif berdasarkan lingkunganya, dan experientatif akibat pengalaman sebelumnya.

Desain Berbasis Image

Tragiklabs

Image diambil dengan berbagai cara dan teknik yang disesuaikan dengan kebutuhan aplikasi dan media. Di dalam Desain berbasis Image, hal utama yang harus diperhatikan seorang desainer adalah memahami bahwa image-image yang diekspose harus membawa keseluruhan pesan, untuk itu terkadang desainer memberi sedikit teks untuk bantuan. Karena setiap image yang tampil merupakan bahasa yang harus disampaikan, maka pada sebuah proses eksekusi sebuah image, seorang desainer juga harus memahami bagaimana pentingnya memanajemen kepekaan terhadap calon penerima pesan, sehingga desainer tidak membabi buta dengan mengandalkan selera estetisnya belaka dalam menampilkan image tersebut. Bukankah sebuah gambar dapat memunculkan ribuan makna dan maksud? Maka, arah dari maksud tersebut harus dapat tersampaikan dengan image yang dieksekusi oleh desainer.

Desain berbasis Type

Dalam beberapa hal, para desainer bersandar pada teks untuk menyampaikan suatu pesan, tetapi mereka menggunakan kata-kata dengan cara yang berbeda dari tatacara yang biasa dilakukan oleh para penulis. Bagi para desainer, mereka melihat visual teks adalah sama pentingnya seperti maksud atau arti dari teks itu sendiri. Format visual teks, baik tipography yang dicetak atau penulisan buatan tangan, memiliki fungsi yang sama yaitu untuk melaksanakan fungsi komunikasi dan seorang desainer pasti sadar bahwa keberadaaan teks harus memiliki fungsi readibility/keterbacaan. Teks juga dapat menghentikan perhatian pada suatu maksud tertentu dan mengidentifikasi sebuah makna pada suatu tampilan visual. Namun keterbacaan teks akan diolah oleh desainer tidak hanya mengandalkan arti sebuah teks secara leksikal saja atau hanya sesuai dengan tata bahasa saja , tapi juga menyebutkan maksud atas peranan teks itu sendiri secara fisik. Sebagai contoh, kita tidak akan menemukan dalam sebuah kemasan pasta gigi yang menuliskan merk-nya dengan menggunakan teks bergaya ‘Stencil’, karena image Stencil font identik dengan style Army Look.

Hampir semua desainer sepakat bahwa penggunaan teks sebagai sebuah tampilan visual dengan tanpa mengabaikan fungsi keterbacaan adalah penting. Mari kita perhatikan pada suatu “halaman umum” yang didalamnya tercetak sebuah teks, pernahkah muncul sebuah pertanyaan, apakah kerja desain grafis dilibatkan didalam merancang halaman yang nampaknya sederhana seperti itu? Pikirkanlah, apa yang anda akan lakukan jika anda diminta untuk mendesain kembali halaman itu. Akankah anda merubah jenis typeface atau ukurannya? Akankah anda membagi teks ke dalam dua kolom yang lebih ramping? Bagaimana dengan garis tepi dan pengaturan jarak antar paragrap? Akankah anda menekuk atau memberi spasi pada setiap paragrap atau mungkin memulai dengan perubahan teks berupa rekayasa tulisan hias? Apakah anda akan memberikan kekuatan pada teks dengan dengan cara memberi nomor, jumlah halaman atau penulisan teks tertentu pada setiap bab? Akankah anda merubah sebuah terminologi dengan cara membuat cetak tebal pada teks tersebut, atau barangkali menggunakan huruf italic/miring dan atau huruf yang bergaris bawah? Adakah hal lain yang dapat memberikan kekuatan dan tekanan dalam sebuah perubahan yang anda pertimbangkan, atau seberapa kuat teks-teks ini akan mempengaruhi reaksi para pembaca? Perlu diketahui, bahwa semua pertanyaan diatas dilakukan dan dijawab oleh Designer pada saat memulai pekerjanya hingga proses evaluasi sebelum teks-teks itu diputuskan untuk dikomunikasikan.

Desain berbasis Type

David-Nalle-Type

Desain berbasis Image dan Type

Para desainer sering mengkombinasikan antara tipography dan image untuk mengkomunikasikan satu pesan pada audience. Eksplorasi dengan berbagai kemungkinan kreatif yang dipresentasikan dalam kombinasi tipography (teks dan sebagainya) dan image (fotografi, ilustrasi, dan seni rupa), bertujuan memberi tampilan serta informasi yang lengkap. Sehingga para desainer tidak hanya menciptakan kesesuaian antara ‘letterforms’ dan image belaka tetapi juga untuk menetapkan keseimbangan terbaik diantara keduanya.

Desain berbasis Image dan Type

Alcatraz Island

Desain berbasis Simbol, Logo dan Logotype

Simbols dan logo adalah hal yang spesial, berbentuk informasi yang sangat ringkas dan berfungsi sebagai ‘identifers’. Simbol adalah reperentasi abstrak dari gagasan atau identitas tertentu. Logo adalah visual dalam format simbolis yang berfungsi mewakili konsep-konsep atau kelompok tertentu. Logotypes adalah identifikasi-identifikasi baik konsep maupun kelompok yang visualnya didasarkan pada suatu deretan kata atau teks yang dirangkai khusus. Beberapa identitas merupakan ‘hybrid’ atau kombinasi antara logotypes dengan simbol. Dalam menciptakan ‘identifiers’, desainer akan menetapkan sebuah visual yang jelas dan sesuai dengan visi dan misi sebuah korporasi, kelompok, konsep atau gagasan sehingga terwakili dan sesuai dengan masing-masing tujuannya.

Desain berbasis Simbol, Logo dan Logotype

Yin Yang

Desainer Grafis, Sumber Pesan dan Audience

Pada suatu pihak, sebuah sumber pesan terkadang terlalu dekat dengan isi pesan itu sendiri, tentunya mengandung unsur subyektifitas yang sangat tinggi, sehingga perlu dicari cara untuk dapat memperkenalkan dan memahamkan pesan-pesan tersebut. Audience, pada sisi lain, adalah sebuah komunitas kompleks, yang sangat luas dan memiliki macam ragam karakter. Hal itu berdampak langsung dengan bagaimana cara atau mekanisme dalam mengkomunikasi pesan-pesan tersebut. Lebih dari itu, pada umumnya sukar untuk membuat audience menjadi bagian dari proses komunikasi.

Berbeda dengan sumber pesan dan audience, para desainer grafis belajar bagaimana cara membangun sebuah pesan dan bagaimana cara menyajikan itu dengan sukses dan baik. Karena para desainer grafis adalah mata rantai diantara sumber pesan dan audience, mereka memiliki dua sisi pekerjaan yang harus dilakukan. Pertama, mereka bekerja dengan sumber pesan (dalam hal ini adalah client) untuk memahami isi dan tujuan pesan. Kedua, bekerja sama dengan peneliti-peneliti pasar dan spesialis-spesialis lain bahkan dengan kondisi riil dari masyarakat untuk memahami sifat alami para audience.

Minggu, 23 Agustus 2009

Indonesia Peringkat Ke-2


Bahama

Zivanna Letisha Siregar, wakil Indonesia dalam Miss Universe 2009, kini menduduki posisi terfavorit dalam polling Miss Universe. Posisi ini, konon didapat karena busana nasional yang dikenakan Zivanna.Dalam kontes kali ini, Zivanna mengenakan baju Srikandi sebagai baju nasional. Tidak sekedar mengenakan busana, Zivanna mampu menjelaskan dengan baik kepada dewan juri tentang kisah Srikandi. Diprediksi, baju Srikandi inilah yang mendonkrak ranking Zivanna.
Sebelumnya, pada 20 Agustus yang lalu, Zizi, panggilan akrab Zivanna, masuk di posisi 3 dalam situs polling online Miss Universe. Per tanggal 21, Zizi sempat turun ke posisi 5. Namun tak lama, hanya berselang beberapa jam, kontestan Indonesia ini sudah berhasil menduduki peringkat 2 setelah Miss Brazil, Larissa CostaKontes Ratu Sejagad ke-58 yang diikuti oleh 84 negara ini, akan memperebutkan mahkota Ratu Sejagad yang akan diselenggarakan pada tanggal 23 Agustus 2009 di Atlantis Paradise Island, Nassau, Bahama.
Miss Universe 2008, Dayana Mendoza dari Venezuela akan memberi mahkota pada pemenang Miss Universe 2009 yang baru di akhir acara grand final Miss Universe 2009, tanggal 23 Agutus mendatang.
Dalam penjurian di malam grand final nanti, para finalis akan dinilai dalam tiga kategori, yakni pakaian renang (two pieces), gaun malam dan tingkat intelektualitas mereka saat menjawab pertanyaan juri. Tampaknya, Zivanna juga optimis untuk melanjutkan langkahnya di ajang pemilihan ratu sejagad ini.

Tari Pendet Di Akui Malaysia


Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius.

Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa.

Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakkan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakkan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Tari putri yang memiliki pola gerak yang lebih dinamis dari tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan, ditampilkan setelah tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan dan perlengkapan sesajen lainnya.



Warga Negara Indonesia (WNI) diminta untuk tidak terpancing emosi terkait maraknya pemberitaan tentang dugaan klaim Tari Pendet oleh Malaysia sebagai bahan promosi pariwisata negeri itu.

"Sebagai orang Bali, saya keberatan kalau kebudayaan kami diklaim bangsa lain . Tetapi sebagai orang Bali, saya juga meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia tidak emosi menghadapi semua ini. Jangan sampai termakan informasi yang tidak jelas," kata putra daerah Bali, I Gde Pitana, di Jakarta, Senin.

Pitana yang juga menjabat sebagai Direktur Promosi Internasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata itu justru mempertanyakan benarkah pemerintah Malaysia sudah mengklaim Tari Pendet sebagai tarian mereka..

Secara pribadi, Pitana mengaku belum mendapatkan kepastian dan data formal yang mengarah ke fakta itu. "Sampai sekarang saya sudah browse ke (situs) Malaysian Tourism dan tidak ada yang mengarah ke sana," katanya.

Ia hanya menemukan fakta bahwa Tari Pendet ditayangkan dalam sebuah program Discovery Channel tentang enigmatik Malaysia. "Di acara itu saya juga tidak melihat adanya sponsorship ataupun logo pemerintahan Malaysia," katanya.

Padahal, lazimnya bila sebuah institusi membuat iklan maka dipastikan akan menyertakan logo resminya.

Pitana kemudian hanya dapat menyimpulkan bahwa hal itu bukan merupakan tindakan klaim tetapi hanya salah satu program Discovery Channel semata. "Saya sama sekali tidak melihat itu (Tari Pendet) diklaim Malaysia secara formal melainkan hanya program televisi semata," katanya.

Ia masih mencari informasi lain yang dapat dijadikan dasar dari isu yang menyebutkan bahwa Tari Pendet diklaim Malaysia. "Saya memang marah kalau diklaim tetapi saya sampai saat ini belum mendapatkan data dan fakta yang mengarah bahwa itu sudah diklaim," katanya.

Khas Bali

Pitana berpendapat Tari Pendet jika ditilik dari silsilah sejarahnya merupakan budaya khas Bali. Jadi, menurut dia, kepemilikan tari tersebut sudah sangat jelas sehingga bila digunakan pihak lain untuk kepentingan komersial tanpa izin resmi berarti merupakan tindakan pelanggaran internasional copy right.

Ditilik dari sejarah, Tari Pendet berasal dari tari pemujaan yang dikombinasi. Kemudian pada 1960-an diaransemen/dikoreografikan ulang oleh I Wayan Rindi dan pertama kali ditarikan oleh Ni Ketut Reneng.

Pada 1965, menyongsong acara Asian Games di Jakarta atas dorongan Presiden RI


Selasa, 18 Agustus 2009

Batu Kota Wisata

Bila anda menyukai wisata kota, telah mengunjungi kota seperti Bandung, Jogja ataupun Solo, dan ingin mencoba suasana yang berbeda, mungkin anda perlu merancang ulang rencana liburan anda kali ini, dan mengganti tujuan utama anda menjadi Kota Batu.

Anjuran ini bukan karena saya diminta oleh dinas pariwisata Kota Batu untuk membuat tulisan ini :) . Namun, penjalanan beberapa waktu lalu ke sana, memberi saya kesan berbeda dibandingkan kota-kota lain.

ImageKota kecil ini terletak di Utara Kota Malang, Jawa Timur. Dikatakan sebagai kota, karena sifat kota telah terlihat disini. Sistem pemerintahan yang mulai teratur, perkerjaan yang beralih dari bertani menjadi non-agraris dan sifat kota lain yang sudah terlihat.

Dikatakan kecil, karena kepadatan rata-rata penduduknya masih relatif rendah, 800 jiwa/km, bila dibandingkan dengan Kota Jogja yang mencapai 15.000 jiwa/km2, Bandung 15.000 jiwa/km2, Jakarta 13.000 jiwa/km2, dan Surabaya 22.000/km2. Bahkan bila dibandingkan kota tetangganya, Malang, yang kepadatan penduduknya mencapai 5600 jiwa/km2. Mungkin hal ini yang menyebabkan tidak ditemukannya kemacetan lalu lintas selama saya disana, kecuali tempat tujuan wisata saat akhir pekan.

Kesan pertama yang didapat saat tiba di Kota Batu adalah indah. Dengan keadaan alam yang dikelilingi gunung-gunung seperti gunung Ajuno, Welirang, Kawi dan Buntok, membuat kota ini memiliki panorama yang indah. Jalan yang berkelok-kelok mengikuti punggungan diantara gunung-gunung tersebut, menambah keindahan kota ini.

Bila anda datang berkendara dari Kota Malang, anda akan terus menanjak hingga pusat Kota Batu. Dari pusat kota anda akan terus menanjak, jika lurus terus, anda akan melewati jalan menuju Kediri, dan jika belok kanan, anda akan menuju Pacet. Jika anda tidak lagi mendapati jalan menanjak maka anda telah keluar dari Kota Batu. Karena batas Utara dan Barat kota ini merupakan punggungan yang menyambung antara gunung-gunung tersebut, dan biasa disebutsaddle.

Kesan lain yang terasa adalah sejuk, atau mungkin dingin tepatnya. Untuk saya yang berasal dari Jakarta, kota di pesisir, suhu antara 17-25,6C cukup memaksa pakaian tebal dikenakan. Wilayah administrasi kota ini memang berada di ketinggian 600-3000 mdpl.

Bicara administrasi, kota ini merupakan kota yang baru terbentuk. Dulunya, kota ini merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Malang. Tahun 1993, statusnya menjadi Kota Administratif dan berubah menjadi Kota pada Oktober 2001. Perubahan status ini memperluas wewenang pemerintah untuk mengatur kota ini.

Tidak salah bila pemerintah kota mencanangkan visi "Kota Batu, Agropolitan bernuansa pariwisata dengan masyarakat madani", dengan keindahan yang dimilikinya.

Image

Wisata yang beragam

Tidak kurang dari 9 tujuan wisata tersedia di kota ini. Salah satunya terkenal sejak dulu adalah Selecta. Untuk membandingkan, Selecta mirip dengan tujuan wisata Cibodas di Jawa Barat. Perbedaannya, Selecta memiliki view yang lebih luas, bila anda melihat ke arah pusat kota, nyaris seluruh kota terlihat.

Maklum, bangunan tinggi masih sedikit dan tidak menghalangi pemandangan. Selain Selecta, masih ada wisata alam yang lain seperti Songgoriti, Tirta Nirwana dan Klub Bunga.

Selain itu, penggemar wisata sejarah dapat mengunjungi Candi Suko di kompleks Songgoriti. Wisata industri juga tersedia dengan mengunjungi perusahaan kecil hingga menengah yang memproduksi makanan ringan dan kerajinan tangan. Di sana anda dapat membeli oleh?oleh dengan "harga miring".

Tak hanya itu, Kota Batu juga memiliki taman rekreasi Jatim (Jawa Timur) Park. Sebagai pengandaian, Jatim Park ini mirip dengan Ancol-nya Jakarta. Namun, udara yang sejuk akan membuat anda betah mengelilingi tiap wahananya.

Lelah berkeliling kota, tentu anda perlu mencari tempat menginap. Jangan khawatir, motel atau villa dengan harga 50.000,- per-malam hingga hotel berbintang banyak tersedia. Lokasinya pun dapat dipilih, yang di tengah kota maupun yang agak di tepi kota. Semua tergantung budget anda...

Jumat, 14 Agustus 2009

mErdEkA ...!!!


hIduP aTau mAtI

sEmanGat 45' hArus dipErtaHankan

Sang Saka Merah Putih merupakan julukan kehormatan terhadap bendera Merah Putih negara Indonesia. Pada mulanya sebutan ini ditujukan untuk bendera Merah Putih yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, saat Proklamasi dilaksanakan. Tetapi selanjutnya dalam penggunaan umum, Sang Saka Merah Putih ditujukan kepada setiap bendera Merah Putih yang dikibarkan dalam setiap upacara bendera.

Bendera pusaka dibuat oleh Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno, pada tahun 1944. Bendera berbahan katun Jepang (ada juga yang menyebutkan bahan bendera tersebut adalah kain wool dari London yang diperoleh dari seorang Jepang. Bahan ini memang pada saat itu digunakan khusus untuk membuat bendera-bendera negara di dunia karena terkenal dengan keawetannya) berukuran 276 x 200 cm. Sejak tahun 1946 sampai dengan 1968, bendera tersebut hanya dikibarkan pada setiap hari ulang tahun kemerdekaan RI. Sejak tahun 1969, bendera itu tidak pernah dikibarkan lagi dan sampai saat ini disimpan di Istana Merdeka. Bendera itu sempat sobek di dua ujungnya, ujung berwarna putih sobek sebesar 12 X 42 cm. Ujung berwarna merah sobek sebesar 15x 47 cm. Lalu ada bolong-bolong kecil karena jamur dan gigitan serangga, noda berwarna kecoklatan, hitam, dan putih. Karena terlalu lama dilipat, lipatan-lipatan itu pun sobek dan warna di sekitar lipatannya memudar.